Forum Diskusi Aneuk Ekonomi Unsyiah Menuju Perubahan Masa Depan Yang Lebih Cerah
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  LoginLogin  

Share | 
 

 Penyair Dan Puisi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
banenk87
Burung Cempala


Jumlah posting : 24
Registration date : 02.11.07

PostSubyek: Penyair Dan Puisi   Fri Nov 02, 2007 9:44 pm

Rosni Idham

(Aceh)

Lahir di desa Sawang Manee Kabupaten Aceh Barat (sekarang Na-gan Raya), 6 Maret 1953. Karyanya dimuat di berbagai media Banda Aceh, Medan, Jakarta dan Malaysia. Antologi tunggalnya Sawang Manee Erat Sekejap (1988) dan bersama antara lain : Antologi Penyair Aceh (1982), Nuansa Dari Pantai Barat (1993), Seulawah (1995), Antologi Sastrawan Asean, Puisi Indonesia (1987),Titia Laut II (Malaysia,1991), Nafas Tanah Rencong (1990), Musim bermula (2001), Ziarah Ombak (2005), Tsunami Note Book (2005).Kegiatan kesenian yang diikuti antara lain : Dialog uatra di kedah,Malaysia (1991), Hari Puisi Malaysia XV di Langkawi, Malaysia (2000), Hari Puisi Dunia (2002), Mengikuti Festival Internation Pembaca dan Penulis tahun 2005 di Ubud Bali.Seniman yang minta pensiun dini, kini menggeluti dunia bisnis, aktif di LSM, terlebih pasca gempa dan Tsunami Desember 2004 sangat focus pada kegiatan kemanusiaan dan pemberdayaan pengungsi. Di dunia politik sempat dua priode mengantarkan kekursi DPRD Kabupaten Aceh Barat. Sebagai pemakalah di berbagai seminar dan lokaharya dan dia juga sebagai Juara Lomba Motivator Nasional 2005. Salah satu puisinya :




Bunga Setaman

(kepada anak-anakku korban tsunami)




Pagi ini

Ketika aku memandang orang-orang memetik bunga di taman

Lalu meletakkannya di air kolam yang mengalir jernih

Dan mengalir seiring senyum semekar sukma

Berdegup aku tiba-tiba

Bergoncang kencang dada gemuruh

Telah gugur bunga-bungaku yang tumbuh

Di bawah siraman alir peluh




Tuhan,

Sinar kesadaran menyentak jiwa

Engkau titipkan bunga-bunga itu

Sebagai amanah atas kepercayaan Mu

Kewajibanku memelihara dan memupuknya

Dengan siraman kasih segenap cinta

Hari demi hari bunga-bungaku tumbuh mekar

Harumnya menebar

Dalam pelukan manik embun yang segar




Bunga setaman, wahai ….

Mengalirlah bersama kebeningan air mata kami

Tersenyumlah bersama keagungan cinta illahi

Menziarahimu dengan rangkaian do’a

Butir hujan adalah kain kafan

Hanya yang Maha Tahu yang kenal pusaramu




Bunga-bungaku, wahai …

Disisinya engkau adalah kesuma

Damailah dalam pelukan Kasihnya

Ikhlas kami melepas

Selamat jalan bunga-bungaku

Di gapura Syurga kita bertemu




Meulaboh, 26 Januari 2005








Diposting oleh penyair Nusantara di 20:54 0 komentar



Samsuddin

Samsuddin

(Aceh)

Lahir di Arul Gele, 17 September 1979. Sekarang ia tercatat sebagai mahasiswa UMUHA. Salah satu puisinya:




Kotaku Hilang Diterjang Tsunami




Indahnya kota tertata rapi

Datang mala petaka takdir Ilahi

Merenggut nyawa penduduk pribumi

Hancurkan seketika tanpa basa-basi




Mungkin kita sedang di uji

Atau malah kita kadang dibenci

Sadarlah wahai penduduk pribumi

Sebab dunia bukan milik kita pribadi




Biarlah badai berlalu dibumi pertiwi

Namun dunia ikut menangisi untuk pribumi ini

Bersabarlah bagi orang yang ditinggal pergi

Tingkatkan iman untuk ibadah yang hakiki




Renungkanlah tragedy tsunami

Air laut meluap menyapu bumi pertiwi

Harta yang kita junjung tinggi

Namun sayang bukan menjadi penolong abadi




Carilah karunia Tuhan untuk dipuji

Mintalah apa yang kita kehendaki

Janganlah berlarut sedih karena bencana ini

Tersenyumlah untuk membangun kembali




Banda Aceh, 3 Februari 2005


Diposting oleh penyair Nusantara di 20:52 0 komentar



Muhammad Natsir

Muhammad Natsir

(Nasir A.NF)

(Aceh)




Lahir di Samalanga, Aceh, 27 Maret 1988. Puisi-puisinya sering dimuat di media massa lokal dan luar negeri seperti Colere, The Towa Review dan Khasanah Budaya. Sering melakukan pementasan teater dan puisi bersama Komunitas Seni Seulawah (KSS) NAD serta Sanggar Matahari (Jakarta) di Graha Bakti Budaya (TIM) sejumlah tempat kesenian di Jakarta dan Sumatera Utara, serta sering pementasan teater dan pembacaan puisi ke sekolah-sekolah di Banda Aceh dan Aceh Besar. Puisinya Koeta Raja pernah dibacakan di Phuket, Thailand dan Negeri Kelantan Malaysia. Mendapat undangan dari Perintah Jerman (Eropa) bagian Negara Amerika (Panama dan Las Vegas), serta pembacaan Puisi di Gothe Institut (pusat kebudayaan Jerman). Pernah menjadi penyiar radio swasta daerah. Sekarang lagi menyiapkan Novel Andaikan Ku Bercinta Dengan Aljabar yang diluncurkan di Indonesia. Salah satu puisinya :




Pasir-pasir Barzanzi




Sketsa-sketsa dunia visual barzanzi

Sumpah angin dan ombak

Terikat firman alam Tuhan




Karang terjepit onggok dosa

Murka menganga langit merah menyala

Sebagai episontrik yang terus berlanjut

Camar putih memanggil nama Tuhan.




Neraka dan surga itu

Adalah sambungan episode

Dalam naskah baik buruk dunia

Atas sumpah angin dan ombak

Terus mengikis pasir-pasir dosa

Berkilau, semakin memutih




Deru menyatu dalam sedu sedan

Hikayat pasir-pasir barzanzi

Tidak lagi terdengar di pesisir Alif

Menggumpal menjadi dongeng batu !

Yang menerjang pintu barzah




Pigura meluntur usang

Antara bongkah-bongkah tajam

Jerat membingkai

Dengan memose tanah berpasir itu




Kini …

Terdengar bisik-bisik sumbang

Membawakan

Hikayat pasir-pasir barzanzi

Yang berujung kalimat ampuh

Setelah Mungkar dan Nangkir

Mengusik tidur panjang

Para tanah yang berdosa




Banda Aceh, 2005





Diposting oleh penyair Nusantara di 20:50 0 komentar



Cut Uswatun Khasanah ZA

Cut Uswatun Khasanah ZA

(Aceh)




Lahir di Aceh Besar, 3 Juli 1989. Nama panggilan Usyana Kekaswa - nasha. Siswa Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Kesdam IM Banda Aceh. Menulis puisi sejak di MTs.S namun puisi - puisinya belum terpublikasikan ke media massa. Ia juga menggeluti seni tari yang tergabung dalam kelompok tari Cakra mata. Di samping menempa diri di bidang teater di Teater Bola dan Kueta Raja Intertaimen. Ia melengkapi kesukaannya berkesenian di bidang nyanyi yang tergabung dalam Maetsro Orcestra dan Bintang Opera. Salah satu puisinya :




Tragedi Tsunami




Jerit yang membelah-belah sunyi

Dalam gemuruh pasang bandang

Gelombang ganas meluluhlantakkan

Isi negri yang elok


Acehku meu bae’-bae’

Acehku meu bae’-bae’

Acehku meu bae’-bae’




Gedung, rumah

Perahu,pepohonan

Dan apa saja rata dengan tanah

Beribu nyawa melayang

Dalam gulungan angin dan gelombang

Tak ada satu pun yang tersisa

Kecuali maut yang bergelimpangan




Acehku meu bae’-bae’

Acehku meu bae’-bae’

Acehku meu bae’-bae’




Dari ujung khatulistiwa

Hatiku tafakur :

Atas kehendak-Mu

Kembalikan Acehku




Aceh, 2005





Diposting oleh penyair Nusantara di 20:48 0 komentar
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Penyair Dan Puisi
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
FACULTY of ECONOMIC :: Cafe Gaul :: Puisi/ Penyair-
Navigasi: